Tampilkan postingan dengan label materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi. Tampilkan semua postingan

Apa itu Literary Period, dan Literary Movement?

Sabtu, 22 September 2018


Disini aku bakal menjelaskan Literary period/Movement secara jelas dan singkat dan padat.

Apasih literary period atau Literary movement itu? pasti pernah denger kata zaman Victorian, Elizabethan, enaissance dan sebagainya nah literary movement atau Literary Period itu adalah pengelompokan karya-karya para penulis dalam kurun waktu tertentu, biasanya para penulis memiliki topic atau tujuan yang sama. Tapi kadang satu penulis bahkan bisa dikaitkan dengan lebih dari satu periode.

Apa saja periodenya? Mari kita mulai dengan zaman Renaissance setelah zaman Dark Age Eropa yang kelam.

1.  Renaissance (1500-1670)
Pernah denger Hamlet? Atau karya-karya Shakespeare lainnya? Nah Shakespeare adalah salah satu penulis zaman Renaissance, zaman ini bisa juga disebut zaman Elizabethan juga. Tema yang diusung di zaman Renaissance sendiri lebih ke humanism karena sudah lepas dari aturan-aturan gereja katolik pada saat itu. zaman ini juga disebut-sebut zaman ter-splendid-nya English Literature.

Beberapa penulis Renaissance sendiri adalah:
     Elizabeth I
-          William Shakespeare
-           John Milton; etc.

2. Enlightenment (1700-1800)
Zaman enlightenment suka disalah artikan sama seperti periode Renaissance padahal sebenernya beda, meskipun banyak juga yang bilang sama. Enlightenment sendiri lebih ke Age of reason sebenernya dimana mereka sudah mulai melakukan eksperimen-eksperimen (lebih mengenal science) intinya. Bahkan Sir Isaac Newton juga termasuk orang-orang Enlightment loh.

Penulis pada zaman Enlightenment
-          Alexander Pope
-           Jonathan Swift
-          Benjamin Franklin
-           Imannuel Kant; etc.

3. Romantic Period (1798-1870)
Sebenernya apa yang kita sebut romantis apa-apa romantic sebenernya salah, romantic ada karena waktu itu terlalu banyak pabrik-pabrik yang menguasai kehidupan. Maksudnya disini mereka ingin kotanya dan daerahnya kembali lagi seperti dulu, periode romantic ini terjadi setelah revolusi industri. Orang-orang romantic adalah orang-orang yang ideal, yang ingin kehidupannya kembali ideal seperti semula bukan dengan pabrik dan mesin-mesin yang mulai berkuasa.

Contoh: pagi-pagi baca koran dan minum kopi, padahal kenyataannya pagi-pagi itu harus segera berangkat kerja dan siap-siap untuk sekolah dan bukan malah membaca koran.
Jadi sebenernya salah kalau kamu bilang ‘ah cowok aku romantis nih’ malah bisa aja pacar kamu atau cowok kamu adalah orang yang absurd.

 penulis Romantic:
-         Edgar Allan Poe
-         Mary Shelley
-          Lord Byron
-        John Keats; etc

4. Transcedentalism (1830-1860)
Adalah periode yang mempunyai konsep ‘beyond the world’. Gimana ya semacam ada pemahaman baru tentang kebenaran dan pengetahuan gitu, jadi kebenaran itu datengnya bukan karena adanya ‘sense’ doang but also dari intuition. Jadi katanya orang-orang di periode ini itu ‘semi religious’ gitu.

Penulis Trancedentalism:
-          Ralph Waldo Emerson
-          Emily Dickinson
-          Walt Whitman; etc.

5. Victorian Period (1837-1901)
Diambil dari nama Ratu Victoria. Bisa dibilang zaman yang susah dibedakan dengan Romantic Period, tapi hal yang terlihat jelas pada zaman ini adalah perbedaan strata sosial, seperti yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Pada zaman ini banyak yang penulis atau essayist yang mendemo zaman ini dengan tulisan-tulisannya, karena mesin dan revolusi industry adalah mesin penghancur kemanusiaan. Gak kaget juga wanita-wanita pada zaman ini harus berjuang mati-matian untuk live their life dan menggapai cita-cita mereka.

Penulis Victorian Period:
-          Charles Dickens
-          Thomas Carlyle
-          Christina Rossetti;


6. Realism (1820-1920)
Pernah denger realis? Nah sama realisme disini juga seperti itu dimana orang-orang menerima semuanya dengan apa adanya tanpa ditambah-tambahi. Apa yang ada di masyarakat sekitar ya seperti itu ditulis tanpa embel-embel sedikitpun. Makanya banyak yang complain karena ya hanya sedikit konflik yang terjadi di fiksi-fiksi pada masa ini.

Penulis Realism:
-         Mark Twain
-        Henry James; etc.

7.  Absurdism/Existentialism  (1850-today)

Bahwa manusia tidak akan bisa sampai pada tahapan logis. Dosen saya sendiri pernah berkata bahwa kita semua ini adalah mahluk-mahluk absurdism karena kita itu tidak jelas dan tidak nyambung (disamakan dengan mitologi sisipus). Manusia tidak mungkin selamanya berbicara tentang hal yang sinkron dari ke waktu ke waktu.

Ya, absurdism atau existentialism ini lebih berorientasi kepada individual contohnya ini eksistensiku, eksintensimu, eksistensinya.

Penulis Absurdism/existentialism:
-          Albert Camus
-          Samuel Beckett; etc.

Hero-Anti Hero yang Terdapat Dalam Diri Jane Eyre Dalam Novel Jane Eyre

Kamis, 12 April 2018




Dalam Novel Jane Eyre karya Charlotte Bronte terdapat unsur character, characterization, Hero-Anti Hero, Picaresque yang terkait dengan unsur penokohan.
Character atau yang biasa kita kenal dengan sebutan tokoh Menurut Nurgiyantoro (1995) adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita Nurgiyantoro (2000) juga menambahkan bahwa tokoh dapat dimaknai sebagai seseorang atau sekelompok orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif dimana para pembaca dapat melihat sebuah kecenderungan yang diekspresikan baik melalui ucapan maupun tindakan.
Characterization atau penokohan menurut Nurgiyantoro (1995) penokohan merupakan pelukisan atau gambaran jelas mengenai seseorang yang dimunculkan dalam suatu cerita
Setelah itu ada Hero-dan Anti Hero. Dimana Hero sebutan untuk tokoh laki-laki  (Heroine untuk tokoh wanita) adalah character dari suatu karya sastra yang suka berhadapan dengan suatu bahaya, kuat, dan pemberani kadang juga mengorbankan diri untuk sesuatu yang baik. Anti hero adalah sifat lain yang dengan jelas kurang kualitasnya dalam menjadi hero, tidak selalu baik, kadang juga takut, nakal, pembangkang, sifatnya bertolak belakang dengan hero.

Picaresque adalah salah satu genre prosa fiksi yang berkenaan dengan petualangan atau perjalanan seorang hero (picaro Spanish) dari low social class yang hidup di antara masyarakat yang mengandalkan kecerdikanya dalam bertahan hidup. Ciri-ciri novel picaresque Novel adalah kadang ditulis menggunakan first person narrative, main karakter kadang berasal dari low class, ceritanya diceritakan seperti sebuah petualangan.

Sebuah novel Picaresque juga harus mempunyai karakter brave karena jika ia tidak berani maka ia tidak akan survive dari kehidupannya yang keras. Harus bersikap bandel karena itu yang karakter utama punya untuk bertahan. Bersikap kasar, atau keras. Jadi bisa dikatakan bahwa suatu karakter di novel picaresque ini harus mempunyai sifat rogue, rascal, dan juga knave. Novel picaresque mempunyai hubungan Hero-Anti Hero disetiap peristiwanya. Dan disini saya akan menjelaskan beberapa hubungan tersebut.

Biasanya karakter utama dalam novel picaresque digambarkan dari seorang anak yang telah kehilangan sosok orang tua atau panutannya (seorang yatim atau bahkan yatim-piatu), sehingga dengan tidak adanya sosok panutan ia menjadi mandiri dan mengherokan dirinya sendiri, tapi disamping itu karena dia tidak ada panutan sosok hero Anti-Hero jadi melekat dan yang keluar adalah sifat nakal, bandel, dan sebagainya. Yang nantinya dalam satu karakter akan terdapat dua karakter tersebut karena sifat tersebut saling melekat satu sama lain. Contohnya seperti SpiderMan, Huckleberry Finn, Oliver Twist, dan sebagainya.

Jane Eyre termasuk Novel Picaresque karena novel ini menceritakan si Jane yang memang berasal dari low class, ibu ayahnya meninggal karena penyakit lalu ia diangkat oleh pamannya dan tidak lama kemudian pamannya meninggal akhirnya dia tinggal bersama bibinya dan anak-anaknya. Novel ini menggunakan First person narrative, lalu bersifat autobiography. Menurut (KBBI) autobiografi adalah riwayat hidup hidup pribadi yang ditulis sendiri. Dalam hal ini, autobiografi merupakan catatan dirinya sendiri. Artinya autobiografi adalah sebuah biografi yang didalamnya menceritakan riwayat hidup atau pengalaman pribadi yang ditulis oleh dirinya sendiri. Isi didalam autobiografi berisi tentang pengalaman dari kecil hingga keadaan sang penulis sekarang ini, dari yang paling sulit hingga mencapai keberhasilan yang besar atau prestasi yang dicapainya semasa hidupnya. Maka dari itu sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama yang sama saja dengan menceritakan dirinya sendiri, apa yang terjadi dalam hidupnya dari kecil sampai menjadi orang yang dikenal orang lain.

Kenapa biasanya novel picaresque menggunakan anak kecil sebagai tokoh utama dalam ceritanya karena memang bercerita tentang autobiografi yang menceritakan dari masa kecil jadi harus dari anak kecil dan juga karena mereka saat kecil bisa membentuk diri mereka masing-masing jadi peraturan seperti norma, peraturan yang dibuat itu tidak berlaku bagi mereka.

Karena Jane Eyre termasuk novel picaresque maka novel ini terdapat Hero dan Anti Hero disetiap peristiwanya, contoh kecil yang saya baca di novel ini saya menggolongkan Jane Eyre sebagai Hero dan Anti Hero dalam cerita. Karena di dalam cerita karakter Jane diceritakan sebagai pribadi yang tangguh, mempunyai harga diri yang tinggi, jujur, mandiri, serta penuh semangat, juga dia menjunjung tinggi keadilan, serta pintar, dan karena dia adalah sosok yang berani Jane suka melawan karena ketidak adilan yang diterima oleh dirinya sekaligus dia adalah sosok yang bandel, dan susah diatur karena dia tidak punya panutan seperti yang saya utarakan diatas bahwa:

With Bewick then on my knee, I was then happy: happy at least in my way. I feared nothing but interruption, and that came too soon. the breakfast-room door opened” (Jane Eyre, 9)  
Seperti kutipan diatas yang menunjukkan bahwa Jane tidak takut apa-apa sebelum pintu ruang makan yang terbuka yang mungkin membuat dia kaget campur terkejut karena dia sedang enak-enaknya membaca buku.
but then John Reed knocked me down, and my aunt shut me up in the red-room” (Jane Eyre, 1847:32)
Kutipan diatas adalah kata-kata yang diutarakan Jane pada saat dia bicara dengan Mr. Lloyd  dia jujur atas apa yang ia rasakan dan yang John Reed lakukan kepadanya. Juga kutipan diatas bisa digunakan sebagai gambaran perlawanan ketidak-adilan yang dirasakan oleh Jane karena dia berani mengatakan bahwa John lah yang membuatnya semuanya seperti itu tetapi Jane lah yang dikurung di red-room oleh Auntnya atau Ibu John.
SPEAK I must: I had been trodden severely, and MUST turn: but how? What strength had I to dart retaliation at my antagonist? I gathered my energies and launched them in this blunt sentence— “ I am not deceitful: if I were, I should say I loved you; but I declare I do not love you: I dislike you the worst of anybody in the world except John Reed; and this book about the liar, you may give to your girl, Georgiana, for it is she who tells lies, and not I”“ (Jane Eyre, 1847: 51-52)
Itu juga salah satu kutipan yang menyatakan bahwa Jane adalah pribadi yang menjunjung keadilan meskipun dengan sedikit emosi yang dibawa oleh Jane karena dalam kutipan tersebut Jane berani mengatakan apa yang dipendam dirinya selama ini akibat auntnya yang ingin memasukkan dia ke sekolah untuk anak-anak yang bermasalah. Dan karena apa yang bibinya ceritakan kepada Mr. Brocklehurst itu sama sekali berbeda dengan pandangan Jane, itu merupakan suatu bentuk pembelaan diri dari Jane karena dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh bibinya tersebut maka dari itu Jane disini terlihat sangat emosi dan tidak dapat mengontrol emosinya sama seperti sifat Anti-Hero yang bisa dibilang sifatnya berbeda dengan yang baik. Dari kutipan diatas saja sudah terlihat hubungan hero-Antihero yang terdapat dalam novel Jane Eyre ini. Ketika menurut Jane apa yang dia pikir benar diutarakan tetapi dalam waktu yang sama itu bukanlah hal yang baik untuk dikatakan kepada bibinya sendiri.
My heart beat thick, my head grew hot; a sound filled my ears, which I deemed the rushing of wings; something seemed near me; I was oppressed, suffocated: endurance broke down; I rushed to the door and shook the lock in desperate effort. Steps came running along the outer passage; the key turned, Bessie and Abbot entered.”(Jane Eyre, 1847:22)

Kutipan diatas adalah saat Jane ketakutan saat di red room tempat dia dihukum. Dia merasa seperti melihat hantu. Disini saya juga menganggap bahwa ini adalah salah satu sifat AntiHero yang ada didalam diri Jane karena dia takut oleh sesuatu.
“I did so, not at first aware what was his intention; but when I saw him lift and poise the book and stand in act to hurl it, I instinctively started aside with a cry of alarm: not soon enough, however; the volume was flung, it hit me, and I fell, striking my head against the door and cutting it. The cut bled, the pain was sharp: my terror had passed its climax; other feelings succeeded. ‘wicked and cruel boy!’ I said. ‘you are like a murderer— you are like a slave-driver— you are like the roman emperors’” (Jane Eyre, 1847:12)

Kutipan diatas juga menggambarkan kemarahan Jane dengan sumpah serapahnya yang ditujukan kepada John karena dia tidak terima dia dilempar buku. Menurut saya sendiri kutipan diatas juga cukup menggambarkan pribadi Jane yang memang mempunyai harga diri tinggi meskipun dia dilempar buku oleh John tapi dia masih tetap memberikan perlawanan kepada John meskipun hanya dengan kata-kata.

Sebuah novel picaresque bisa dikatakan picaresque jika Hero-Anti Hero banyak muncul dalam suatu peristiwa, terlihat bertentangan dalam satu scene yang sama. Seperti halnya kutipan yang memperlihatkan keberanian Jane dalam menghadapi John tetapi karena Jane tidak mempunyai panutan yang baik maka Jane dengan mudah mengeluarkan kata-kata seperti itu meskipun bukan hal-hal yang kasar ettapi pemikiran Jane sudah memperlihatkan keAntiheroannya. Sama halnya ketika Jane mengungkapkan kekesalannya kepada bibinya, benar bahwa Jane menjunjung harga diri dan keadilan tetapi tidak seharusnya Jane berkata demikian kepada bibinya. Hal tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa ke Hero-Antiheroan seseorang dapat muncul bersamaan dan atau saat Hero orang tersebut muncul keAntiheroannya akan menjadi efek samping dari keheroan tersebut.

Saya tidak akan memunculkan kutipannya kembali karena diatas sudah dapat menggambarkan hal-hal yang saya sebutkan di paragraph di atas. Setelah presentasi ke Hero-AntiHeroan suatu karakter beberapa pertanyaan muncul dalam benak teman-teman saya yang ada di kelas. Tentang ada tidaknya hero disamping pemeran utama atau main character? Menurut saya sendiri pasti ada Hero disetiap penokohan setiap karakter seperti tokoh sampingan dalam cerita Jane Eyre ini misalnya Helen Burns. Dia adalah tokoh sampingan yang membantu main character disini atau si Jane Eyre ini, terlebih lagi seorang hero di dalam novel picaresque selalu mempunyai asistennya sendiri, jadi dia mempunyai ketergantungan, tidak pernah mempunyai musuh langsung yang berhadapan dengan sang hero itu sendiri. Si Helen ini bisa dibilang adalah asisten atau teman berpetualang si Jane karena selalu ada disebelah Jane. Helen disini bisa disebut Hero ketika dia melakukan hal-hal yang mencerminkan sifat hero tersebut.

Juga ada yang mempertanyakan apakah di dalam suatu novel Hero-antiheronya bisa lebih dari satu? Menurut saya sendiri sangat bisa di suatu novel atau suatu karya terdapat banyak hero-antihero seperti Jane diatas. Menurut saya sendiri bisa kita lihat dalam film Infinity War, atau bahkan Avengers. Disana terdapat banyak Hero dan yang pasti ketika sifat Hero mereka muncul sifat antihero mereka pasti juga akan muncul. Dan pasti dalam setiap karya sastra pasti karakter di dalam karya tersebut berbeda-beda meskipun akan sama saja menjadi Hero-anti hero tapi dikemas dengan cara yang berbeda.

Lalu beberapa pertanyaan seperti apakah peran utama dalam suatu novel ada karakter yang mempunyai sifat antihero? Karena sebelumnya saya menuliskan bahwa antihero adalah sifat yang dimiliki oleh lawan hero karena saya salah menafsirkan bahwa antihero adalah lawan dari hero itu sendiri padahallawan dari  hero sendiri adalah villain. Tapi, menurut saya pasti ada karena karya sastra tidak melulu berporos kepada orang yang baik saja. Saya mengambil contoh seperti suicide squad yang pada dasarnya mereka semua adalah orang-orang yang bukan orang baik tapi akhirnya mereka mengorbankan beberapa hal menjungjung tinggi keadilan yang mengakibatkan sisi hero mereka muncul dan mereka (perkumpulan penjahatnya) adalah karakter utamanya. Sama juga jika posisinya kita mengambil contoh maleficent. Partner dalam presentasi saya juga mengatakan bahwa dia pernah membaca buku tentang peran utama yang bukan berkarakter baik tetapi lupa judul dan nama pengarangnya.

Lalu, ada yang bertanya juga apakah ada genre novel picaresque tetapi sci-fi? Tentunya ada seperti yang kita tahu the maze runner adalah salah satu contoh novel picaresque yang bercampur dengan genre sci-fi, lalu harry potter juga. Memang susah saat kita mematok satu genre dalam suatu karya sastra karena memang genre itu banyak dan di dalam suatu karya sastra pasti terdapat berbagai genre yang diangkat oleh sang penulis. Seperti Jane Eyre sendiri yang juga termasuk dalam genre romance memang sangat sulit jika mematok salah satu genre saja karena nanti ceritanya tidak bisa berkembang karena hanya terpaku dalam satu genre saja.

Jadi, jika suatu karakter yang lebih menonjolnya adalah sifat antiheronya dan dia menjadi karakter utamanya itu sangat mungkin karena juga seperti diatas saya katakan jika terlalu mematok pada satu hal saja akan susah berkembang.

Pasti di dalam suatu karakter terdapat berbagai macam sifat, seperti Jane sendiri disini dia digambarkan dengan sifat heronya yang berani, menjunjung tinggi keadilan, mandiri, dan juga mengorbankan diri. Tetapi dia juga digambarkan dengan sifat antiheronya seperti tidak patuh kepada aturan yang dibuat bibinya, tidak ingin kalah, keras atau teguh dengan pendiriannya, tidak bisa menahan emosi, agak bandel dan kasar. Jika dia tidak mempunyai sifat diatas tentunya dia tidak akan bisa survive seperti yang saya utarakan di paragraph-paragraph awal jika sifat antiheronya tidak keluar maka dia akan tertindas oleh John Reed, Bibi, dan anak-anaknya yang lain.

 Jadi, hero disini bukanlah gambaran hero seperti kesatria-kesatria yang membawa pedang melainkan orang yang lebih suka hidup dengan akal sehatnya atau apa yang dia pegang teguhi kadang di dalam hidupnya bukannya dia hanya boleh jujur atau berlaku baik, tetapi dia bahkan melakukan hal-hal yang salah seperti berbohong, mencuri, atau apapun itu sebagai bentuk survivenya dalam kehidupan yang merasa dirinya tidak terikat oleh suatu aturan dan hidup atas kemauanya sendiri. Kadang, novel picaresque ini sendiri menjadi salah satualternatif dalam menyinggung pemerintahan dalam masa itu.



Short Stories : Indian Camp

Senin, 13 Februari 2017


1.       Bagaimana tanggapan anda dalam keterlibatan Hamingway dalam cerita Indian Camp?
Hamingway sendiri tidak ikut serta secara langsung di dalam cerita Indian Camp tersebut tapi dia membuat cerita Indian Camp tersebut dikarenakan pengalaman pribadi yang dilalui oleh Ernest sendiri, ayah Hamingway sendiri adalah dokter yang juga sering bepergian layaknya ayah Nick. Serta Hamingway yang terkadang ikut perjalanan ayahnya sama seperti Nick yang ikut ke Indian Camp bersama Ayah, dan Pamannya. Juga karena Hamingway suka sekali mengambil cerita dari masa lalunya maka ia hanya tinggal menambah atau memberi bumbu-bumbu ke cerita yang akan dia tulis.

2.       Apa hubungan perasaan Nick tentang kematian pada akhir cerita?
Di akhir cerita dikatakan bahwa suami sang wanita yang melahirkan bunuh diri dikarenakan lelaki itu harus menebus apa yang dirasakan oleh sang istri, perasaan Nick saat mengetahui sang suami telah meninggal dia menjadi bingung apakah kematian semudah itu, apakah mati itu mudah. Nick adalah anak yang polos, serta keingintahuan yang besar yang digambarkan oleh percakapan Nick dan Ayahnya saat Nick bertanya “apakah mati itu sulit?”, “kenapa dia bunuh diri, Ayah?”, “Apakah banyak laki-laki yang mati?”, “perempuan?” dari pertanyaan-pertanyaan diatas bisa kita rasakan bahwa Nick ini merasa ingin tahu tentang kematian, dan bunuh diri. Perasaan yang dia rasakan ketika melihat seorang dilahirkan dan seseorang yang mati naas di waktu yang hampir sama.

3.       Apa efek yang ditimbulkan terhadap Nick dari kematian suami Indian?
Ketakutannya terhadap kematian, jadi setelah Nick mengetahui kematian tersebut Nick menjadi semakin berani kedepannya. Meskipun keingintahuan tentang kematiannya masih begitu tinggi, ketakutannya akan semakin kecil seiring dengan hal-hal yang dia lalui. Meskipun akhir cerita dari Indian Camp agak menggantung, tapi itulah efek yang ditimbulkan.

4.       Apa yang dikatakan oleh Ayah Nick tentang orang-orang yang bunuh diri?
Ayah Nick menjawab pertanyaan Nick mengapa lelaki indian membunuh dirinya sendiri dan ayah Nick menjawab mungkin dia tidak tahan, tidak tahan tentang hidupnya yang memang banyak sekali rintangan halangan. Dan Ayah Nick juga berkata tidak semua lelaki bunuh diri, apalagi wanita. Karena memang tidak semua orang akan mengambil jalan bunuh diri.

MAKALAH PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP REMAJA ZAMAN SEKARANG

PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP REMAJA ZAMAN SEKARANG
Oleh:
Ratnaningtyas Yuni Puspita
1165030155
ABSTRAK
Bahasa gaul adalah bahasa prokem atau bahasa preman yang mulai digunakan pada tahun 1970-an di Jakarta. Remaja zaman sekarang lebih suka menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia yang baik, dan benar. Dikarenakan, bahasa Indonesia yang terlalu kaku, dan tidak luwes saat digunakan dalam percakapan. Meskipun begitu, tentu saja terus-terusan menggunakan bahasa gaul akan memunculkan dampak negatif, dan juga positif bagi remaja dan bagi negara Indonesia itu sendiri. Seperti munculnya jiwa-jiwa kreatif yang ada pada diri remaja saat ini, dan bisa juga bahasa gaul akan menggerus bahasa nasionalisme bangsa Indonesia itu sendiri.
Kata kunci: bahasa, gaul, remaja, pengaruh, zaman.
1.      PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan sesuatu secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan ba bhwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.
Ada beberapa karakteristik bahasa. Diantaranya adalah:
1.      Bersifat Arbitrer
Bahasa bersifat arbitrer artinya adalah hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak wajib. Karena tidak dapat dijelaskan mengapa suatu benda dinamakan benda tersebut. Meskipun bersifat arbitrer bahasa juga bersifat konvensional artinya setiap penutur bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan benda yang dilambangkannya.
2.      Bersifat Produktif
Artinya dengan satuan yang terbatas dapat dibuat ujaran-ujaran yang tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas
3.      Bersifat Dinamis
Yang maksudnya bahasa dapat berubah tergantung waktu. Bisa saja seiring waktu berjalan, kosakata suatu bahasa bertambah atau mungkin beberapa kosakata telah hilang.

4.      Bersifat Beragam (Universal)
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
5.      Bersifat Manusiawi
Karena hewan tidak dapat berbahasa, hewan tidak memiliki bahasa hanya memiliki bahasa isyarat. Selain itu manusia belajar bahasa dengan tata caranya bukan secara insting atau naluriah seperti hewan.
Bahasa yang baik adalah bahasa atau berbahasa dengan sesuai konteks atau sesuai dengan kaidah. Namun, kalimat yang baik belum tentu kalimat yang benar, serta kalimat yang benar belum tentu baik. Bahasa yang baik harus disesuaikan dengan konteks karena pada saat mengatakan sesuatu hal tetapi berbeda konteks maka bahasa itu tidak menjadi bahasa yang baik lagi.
Bahasa juga dipengaruhi oleh lingkungan, jika lingkungan kita menggunakan bahasa yang tidak baik maka kita ikut terpengaruh oleh bahasa yang tidak baik. Namun, jika kita tinggal di tempat yang baik maka kita juga akan terpengaruh menggunakan kata-kata yang baik. Tidak baik disini merupakan kata-kata kasar yang selalu diucapkan khususnya diucapkan oleh remaja dari tingkat smp sampai dengan mahasiswa.
Bahasa remaja jaman sekarang lebih mengarah ke arah bahasa gaul, dimana mereka menggunakan istilah-istilah baru dan unik. Karena dengan menggunakan bahasa tersebut mereka bisa merasa dekat dengan teman disekitarnya. Seperti sifat bahasa yang dinamis, bahasa-bahasa yang mereka gunakan akan bertambah entah itu bahasa daerah entah itu serapan dari luar negeri.
Penggunaan bahasa gaul bisa menggerus eksistensi bahasa Indonesia. Jadi penulis ingin mengungkapkan apa saja bahasa gaul dan bagaimana bahasa gaul itu bisa digunakan oleh para remaja yang ada di Indonesia. Maka perumusan masalah untuk makalah ini adalah bahasa gaul yang digunakan oleh remaja, serta pengaruh bahasa gaul bagi remaja.
2.      PEMBAHASAN
a.       Remaja
Masa remaja Piaget dalam Hurlock (1999) secara psikologis masa remaja merupakan usia dimana berinteraksi dengan masyarakat. Masa remaja adalah masa dimana kita berada di umur antara 13 sampai dengan 21 tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut dewasa tetapi juga tidak bisa disebut anak-anak.
Piaget dalam Ali (2011:9) mengatakan bahwa secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini memasuki banyak aspek efektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Shaw dan Castonzo (dalam Ali, 2011: 9) menjelaskan bahwa remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan .
Monks (dalam Ali, 2011: 9-10) dalam Deta Fitriani menjelaskan bahwa remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal sebagai fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.
Jadi, masa remaja adalah masa dimana remaja sedang mengalami masa kegoyahan iman. Dimana mereka bisa dengan mudah dimasuki, atau dijejali oleh hal-hal yang baru. Dengan mudah mencoba hal yang baru, atau mencoba hal-hal yang aneh. Dengan begitu mereka bisa merasa puas atau bahkan merasa bahagia.
b.      Bahasa Gaul
Bahasa adalah suatu hal yang arbitrer, dinamis, serta beragam. Bahasa dapat diambil dari mana saja termasuk bahasa keseharian, bahasa daerah, serta bahasa yang datang dari bahasa inggris. Penutur bahasa dapat dilihat dari segi umur dan segi pendidikan. Karena semakin tua umur dan semakin tinggi pendidikan bahasa yang diucapkan oleh sang penutur akan lebih sopan atau lebih halus.
Hal itu juga berlaku untuk lingkungan, karena juga meskipun kita masih muda dan tingkat pendidikan kita masih rendah jika kita tinggal di lingkungan yang dimana lingkungan tersebut banyak terdapat penutur bahasa yang baik pasti hal tersebut akan berimbas kepada kita. Karena pada dasarnya bahasa akan selalu berkembang mengikuti latar belakang pemakainya, baik kondisi sosiologis, maupun kondisi psikologis penggunanya. Oleh karena itu dikenal ada bahasa pejabat, ada bahasa pedangang, ada bahasa pebisnis, dan bahasa gaul yang dipakai anak-anak remaja sekarang. Itu adalah salah satu contoh bahasa bersifat universal, yang akan berkembang dan memiliki berbagai variasi.
Banyak anak jaman sekarang yang menggunakan bahasa kurang enak didengar bagi beberapa orang khususnya orang tua. Bahasa yang sering digunakan remaja saat ini lebih ke bahasa-bahasa-bahasa gaul yang datang karena zaman. Mereka lebih suka menggunakan bahasa-bahasa itu karena mereka pikir bahasa-bahasa seperti itu lebih mudah dicerna oleh mereka.
Mereka juga lebih suka menambahkan suatu umpatan di dalam percakapan mereka. Itu membuat mereka lebih santai bicara, dan lebih nyaman. Hal tersebut sudah lazim digunakan oleh anak zaman sekarang.
Tidak ada yang tahu dari mana awal atau asal-muasalnya bahasa-bahasa gaul. Bahasa gaul sendiri diartikan bahasa yang mempunyai arti khusus, unik, dan bahkan menyimpang dari arti yang lazim ketika digunakan oleh subkultur tertentu, bahasa subkultur khusus tersebutlah yang dinamakan bahasa gaul atau bisa disebut bahasa argot.
Bahasa gaul sendiri sudah digunakan sejak tahun 1970-an. Ketika itu bahasa gaul digunakan sebagai bahasa prokem oleh beberapa komunitas-komunitas. Tapi, seiring berjalannya waktu bahasa tersebut dijadikan bahasa sehari-hari. Bahasa prokem ini jarang ditemui di negara-negara lain kecuali di Indonesia. Bahasa prokem ini lebih dominan ke bahasa Betawi yang sudah di ubahsesuaikan oleh anak-anak yang menetap di Jakarta.
Bahasa prokem merupakan bahasa yang digunakan preman untuk berkomunikasi sehari-hari dengan merancang kata baru dengan cara mengganti kata dengan lawan kata, mencari kata yang sepadan, menentukan angka-angka, mengganti fonem, distribusi fonem, penambahan awal, akhiran, atau sisipan. Perbedaan bahasa prokem tergantung oleh daerah (komunitasnya).
Menurut Kridalaksana (2008: 25), bahasa gaul adalah ragam nonstandar bahasa Indonesia yang lazim di Jakarta pada tahun 1980-an hingga abad ke-21 ini yang menggantikan bahasa prokem yang lebih lazim pada tahun-tahun sebelumnya. Ragam ini semula diperkenalkan oleh generasi muda yang mengambilnya dari kelompok waria dan masyarakat terpinggir lainnya. Sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi Bahasa Indonesia dan dialek Betawi.
Karena begitu seringnya diucapkan maka bahasa ini bukan lagi bahasa yang awam, melainkan bahasa yang harus digunakan karena jika tidak memakai bahasa ini bisa disebut kurang update dengan keadaan sekitar. Dengan hal ini juga para ‘waria’ membuat bahasa prokem mereka sendiri. Pada perkembangannya, konon para waria inilah yang lebih sering membuat bahasa-bahasa gaul baru yang kemudian akan menambah bahasa-bahasa gaul yang sudah ada.
Pada dasarnya bahasa gaul ini memiliki ciri khusus seperti; lincah, kreatif, dan singkat. Banyak kosakata yang cenderung lebih pendek, dan kosakata yang terlalu panjang diperpendek dengan proses morfologi, atau mengubahnya dengan mengganti kata-kata yang lebih pendek. Seperti, huruf awalang ‘e’ didalam kata ‘emang’ seharusny kata tersebut adalah ‘memang’ tetapi secara sengaja dihilangkan agar lebih pendek, dan lebih enak didengar. Kata ‘tidak’ yang berganti menjadi ‘kagak’ atau ‘gak’ huruf ‘t’, ‘i’ dihilangkan, dan huruf ‘d’ diganti menjadi ‘g’. Atau dalam kata ‘kagak’ huruf ‘tid’ diganti dengan ‘kag’ sehingga menjadi ‘kagak’. Masih banyak lagi kata-kata yang diganti hurufnya, dihilangkan, atau ditambah supaya lebih menjadi muda.
Cara pelafalan bahasa gaul sama seperti bahasa Indonesia. Tetapi, ada partikel-partikel yang digunakan seperti lah, sih, tuh, dong dan banyak lagi. Partikel-partikel tersebut digunakan dimaksudkan agar bahasa yang diucapkan lebih hidup, dan lebih santai, serta membuat mereka lebih dekat satu sama lain dibandingkan orang tua yang cenderung menggunakan bahasa baku dalam percakapan. Meskipun partikel-partikel diatas pendek, mereka mempunyai arti yang lebih dari itu. Partikel-partikel tersebut memberi pelugasan makna dan yang lainnya, juga mampu memberikan tambahan informasi bagi pendengar yang tidak bisa diberikan oleh bahasa Indonesia yang baku, serta menambah keakraban pendengar dan pembicara, menambah suasana hati pembicara, dan menambah ekspresi pembicara. Contohnya adalah saat kita berbicara ‘sudah pasti dong’ ‘ya iya lah’ kata-kata tersebut lebih menekankan arti lebih menekankan ke maksud.
Perkembangan bahasa gaul ini didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Peaget telah mencapai tahap operasional formal. Yang sejalan dengan perkembangan psikis remaja, dimana mereka sedang berada dalam fase pencarian jati diri mereka, pada masa ini kemampuan berbahasa para remaja mulai berubah meskipun menyimpang dari norma umum. Oleh karena itu pada masa ini remaja sangat sulit dalam menentukan untuk berbuat “sama”atau “tidak sama” dengan teman-temannya yang lain. Jika mereka memutuskan untuk berbahasa tidak sama dengan yang lainnya maka mereka tidak akan diterima oleh kelompoknya, dan akan dikucilkan. Maka dari itu mereka akan lebih memilih untuk berbicara sama dengan anak-anak yang lain.
Menurut Alatas dalam Deta Fitriana, bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan untuk berteman dan bersahabat di tengah masyarakat. Bahasa gaul merupakan bentuk ragam bahasa yang digunakan oleh penutur remaja. Dalam konteks modern, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia nonformal yang  digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial. Media-media populer seperti televisi, radio, dunia perfilman nasional, juga merupakan pemakai bahasa gaul. Maka dari itu banyak dari kita yang meniru-niru para figur yang ada di televisi untuk berbicara menggunakan bahasa gaul. Jadi, mereka berkata seperti itu supaya mereka merasa seperti para figur yang berada di televisi.
Menurut Sahertian dalam Deta Fitriana, awal istilah-istilah dalam bahasa gaul itu muncul untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari. Karena semakin sering mereka berinteraksi dengan bahasa-bahasa tersebut, yang mengakibatkan banyak orang mengetahui apa arti dari kata-kata itu.
Deddy Mulyana dalam buku karangannya yang berjudul pengantar ilmu komunikasi (2008) menjelaskan bahwa bahasa gaul ini digunakan untuk memproteksi kelompok mereka dari komunitas lain. Sehingga komunikasi yang mereka lakukan, hanya kelompok mereka saja yang mengerti. Hal tersebut menunjukan bahwa remaja dalam kelompoknya membuat tata bahasa tersendiri agar orang lain tidak memahami apa yang dibicarakan atau mungkin agar kelihatan lebih gaul.
Bahasa gaul tidak akan muncul tanpa adanya dorongan dari berbagai pihak, dan berbagai faktor-faktor lingkungan yang ada. Beberapa faktor tersebut ialah:
1). Bahasanya Unik
Remaja identik dengan hal-hal yang baru, karena itulah mereka menggunakan bahasa gaul yang dianggap unik. Hal ini juga yang akan memicu para remaja untuk membuat kosakata baru yang lebih unik dari yang sebelumnya.
2). Tidak Ingin Dianggap Ketinggalan Jaman
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, para remaja menggunakan bahasa-bahasa gaul ini supaya dianggap masih up-to-date dan tidak dianggap cupu oleh teman sebayanya. Dan juga, remaja indonesia masih sangat labil dan suka meniru, sehingga hal-hal seperti ini mudah ditiru. Terlebih lagi dengan embel-embel ‘gaul’ maka mereka akan dengan senang hati menggunakan bahasa tersebut untuk menjadi gaul.


3). Karena Disukai
Karena remaja lebih suka dengan bahasa gaul yang dianggapnya tidak baku, dan tidak monoton seperti bahasa Indonesia. Mudah untuk berkomunikasi dengan sesama, maka dari itu mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa gaul.
c.       Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Kehidupan Remaja
Para remaja pasti sudah mengetahui tentang bahasa-bahasa gaul yang ada disekitarnya, entah dari ada bahasa Indonesia atau dari bahasa asing lain. Mereka sendiri juga mengembangkan bahasa-bahasa tersebut supaya pas untuk diucapkan saat berkomunikasi dengan sesama remaja.
Bahasa gaul di mata orang-orang tua sebenarnya terlihat tidak sopan karena terlalu tidak baku, dan terlalu santai. Dan kurang sopannya bahasa gaul membuat para orang-orang tua tidak menggunakannya. Beberapa hal yang membuat kurang sopannya bahasa tersebut adalah misalkan saat sedang berbicara dengan orang tua, tiba-tiba di tengah pembicaraan kata-kata ‘gue’ terlontar. Contohnya: “gue ga tau mah” pasti akan canggung sekali, karena dalam konteksnya itu tidak sopan digunakan kepada orang tua.
Maka dari itu menjadi tidak sopan adalah contoh kecil pengaruh bahasa gaul yang digunakan oleh remaja jaman sekarang. Selain itu, remaja jaman sekarang menjadi lebih kasar, dan lebih nakal dari biasanya.
Beberapa dampak dari bahasa gaul yang digunakan oleh remaja, adalah:
1.      Segi Ekonomi
Karena banyak anak remaja akan ikut-ikutan menjadi hedonisme dengan teman-temannya. Karena, bahasa gaul identik dengan anak-anak yang berkasta tinggi. Jadi, secara tidak langsung jika mereka ingin berbicara dengan bahasa gaul mereka otomatis akan meniru tingkah laku hedonisme sehingga menghilangkan perilaku hemat pada pola hidup yang sederhana. Seperti, membeli barang-barang yang menjadi indikator bahwa mereka adalah anak-anak gaul jaman sekarang, mereka akan merasa rendah apabila tidak memiliki barang indikator tersebut dan jika mereka tidak berbicara menggunakan bahasa gaul.
2.      Segi Norma Susila
Seperti yang dicontohkan diatas, para remaja akan kehilangan sopan santunnya saat berbicara dengan bahasa gaul khususnya dengan orang tua mereka.
3.      Segi Budaya
Dengan adanya bahasa gaul menambah khasanah kebudayaan kita lebih beragam, akan tetapi kurang terkontrolnya bahasa gaul tersebut akan menjadi bahasa yang norak, serta kebarat-baratan, dan imitasi yang membuat modernisasi menjadi kearah yang buruk.
4.      Segi Globalisasi
Dengan adanya globalisasi lebih menuntut para remaja untuk berperilaku sesuai globalisasi yang ada, karena jika tidak mereka akan dianggap ketinggalan jaman. Sama dengan halnya bahasa, mereka akan seperti dikucilkan jika tidak menggunakan bahasa yang sudah biasa di era globalisasi ini. Tetapi juga bahasa gaul yang sekarang ada berfungsi juga untuk membuktikan bahwa remaja di Indonesia tidak ketinggalan jaman seperti remaja di negara-negara lain.
Di era globalisasi ini dipastikan setiap remaja yang ada sudah mempunyai handphone di tangannya. Dari yang harganya selangit hingga yang berharga standar pasaran. Pastilah saat mereka berkomunikasi, khusunya saat mengirimkan pesan singkat mereka cenderung menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem tersebut, serta menggunakan bahasa asing lainnya. Sehingga, dengan mereka terus-terusan menggunakan bahasa tersebut, pasti akan muncul bahasa-bahasa gaul yang baru.
5.      Segi Komunikasi
Adanya Bahasa gaul dikarenakan menjamurnya internet dan situs-situs jejaring sosial yang berdampak signifikan terhadap perkembangan bahasa gaul yang ada. Penikmat jejaring sosial yang umumnya para remaja menjadi agen pernyebaran bahasa gaul kepada masyarakat disekitarnya. Tulisan dan perilaku orang yang menulis di salah satu jejaring sosial bisa dilihat oleh lebih dari seribu orang dan bisa ditiru oleh mereka.
Peran media atau elektronik, dikarenakan seperti halnya sudah marak di televisi atau pun radio atau pun media cetak yang sering menggunakan bahasa gaul tersebut. Yang artinya, bahasa gaul tidak hanya tersebar melalui kontak langsung, melainkan terus-terusan ‘dicekoki’ bahasa gaul yang mau tidak mau harus diterima oleh kalangan remaja saat ini
6.      Segi Bahasa Indonesia
Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Serta mudah dipahami, dan sesuai dengan situasi pemakainya, serta tidak menyimpang dari kaidah yang berlaku. Tetapi, karena remaja lebih suka memakai bahasa gaul secara tidak langsung, dan secara terus menerus bahasa Indonesia akan tergerus. Kemampuan berbahasa Indonesia mereka akan melemah.
Sebenarnya, munculnya bahasa gaul adalah suatu momok menakutkan bagi bangsa Indonesia, karena jika para remaja ini terus-terusan memakai bahasa gaul maka mereka akan kehilangan kemampuan untuk berbahasa Indonesia dan cita-cita para pemuda yang dulu dalam sumpah pemuda yang mengatasnamakan ‘Berbahasa satu Bahasa Indonesia’ akan hilang dimakan jaman.
3.      PENUTUP
Bahasa gaul lebih diminati para remaja daripada bahasa Indonesia, dikarenakan bahasanya yang luwes dan tidak baku, serta lebih nyaman jika dipakai berkomunikasi karena tidak terlalu terikat oleh kaidah kebahasaan.
Faktor yang mendorong para remaja untuk menggunakan bahasa gaul, adalah:
1.      Karena Unik
2.      Karena Tidak Ingin Dianggap Ketinggalan Jaman
3.      Karena Disukai
Bahasa gaul juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan para remaja, contohnya dari segi ekonomi, dari segi norma susila, segi budaya, segi globalisasi, segi komunikasi, serta segi bahasa Indonesia. Pastilah dalam pengaruh itu ada yang baik dan buruk, meskipun lebih banyak sisi negatif yang diperlihatkan oleh bahasa gaul masih banyak juga sisi positif yang terdapat pada bahasa gaul ini. Contohnya saja remaja dituntut untuk lebih kreatif dikarenakan bahasa gaul akan terus berkembang seiring jaman.
Meskipun menggunakan bahasa gaul para remaja harus tetap mengutamakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena bahasa adalah identitas bangsa. Juga, para remaja harus ingat sumpah pemuda yang disumpahkan pada tahun 1928. Boleh saja menggunakan bahasa gaul tetapi jangan sampai lupa akan identitas bangsa kita sendiri.
4.      Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Tommy. 2011. Pengertian Bahasa, Karakteristik Bahasa dan Fungsi Bahasa – Kajian Sosiolinguistik (https://dibustom.wordpress.com)
Ali, Mohammad dan Muhammad Asrori . 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara.
Atih, Ani. 2013. Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Perilaku Remaja. (http://aniatih.blogspot.co.id/)
Fitrianita, Deta. 2015. Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar di Kalangan Remaja. (http://detafitrianitablog.blogspot.co.id/)
Grace, Gracella. 2014. Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia. (http://gracellagrace.blogspot.co.id/)
Hurlock, E. B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Ruang Kehidupan. Edisi 5. Jakarta: Erlangga
Ismiyati. 2011. Bahasa Prokem di Kalangan Remaja Kotagede. Skripsi  Sarjana pada Universitas Negeri Yogyakarta.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia.
Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Poerwadarminta, W. J. S. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.